MANAJEMEN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS TEKNOLOGI
MANAJEMEN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS TEKNOLOGI
Mualifah Khoirunnisa 502210026
Abstrak
Kurikulum adalah alat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Salah satu tujuan dari pendidikan Indonesia adalah mewujudkan pserta didik yang berkarakter. Dengan beberapa karkater yang disebutkan dalam UU SISDIKNAS tahun 2003. Maka hanya dengan kurikulum yang baiklah tujuan membentuk peserta didik yang berkarakter dapat terwujud. Namun sayangnya kurikulum yang terbukti sukses dua tahun lalu belum tentu sukses untuk diterapkan di masa pesatnya teknologi seperti saat ini. Maka perlu adanya pengembangan kurikulum pendidikan karakter agar sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan kuriklum pendidikan karakter yang dilakukan hasruslah dengan sistem manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi yang baik agar tujuan dari kurikulum karakter dapat tercapai. Dari latar belakang masalah tersebut tulisan ini membahas tentang bagaimana manajeman pengembangan kurikulum pendidikan karakter yang perlu dilakukan di Indonesia saat ini. Sedangkan tujuan dari tulisan ini adalah mengetahui manajemen pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka. Dari hasil kajian pustaka didapatkan hasil bahwa manajemen pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi dilakukan dengan merencanakan dokumen naskah kurikulum yang di dalamnya termuat rancangan tujuan, isi, metode, dan evaluasi. Kurikulum pendidikan karakter berbasisi teknoogi diorganisasikan menjadi satu kesatuan dengan mata pelajaran yang lain. Selain koordinasi antara nilai pendidikan karakter dengan mata pelajaran, koordinasi juga perlu dilakukan antara sarana prasarana sekolah, lingkungan sekolah, karyawan sekolah, dan seluruh sumber daya sekolah. Karena mengkoordinasikan seluruh sumber daya sekolah dalam pelaksanaan kurikulum ini, maka dalam pelaksanaannya butuh peran dan kerja sama dari seluruh sumber daya sekolah. Selama pelaksanaan dilakukan evaluasi berdasarkan instrumen yang telah ditetapkan. Sehingga unsur-unsur yang harus dievaluasi sudah jelas komponennya. Harapannya tulisan ini dapat menjadi pengembangan pendidikan karakter yang dilaksanakan pada tahun yang akan datang dengan input adalah native generation yang hidup berdampingan dengan teknologi.
Pendahuluan
Sangat dekatnya kehidupan manusia dengan teknologi memunculkan banyak hal positif maupun negatif. Beberap hal negatif yang menjadi sorotan adalah sikap dan karakter anak terhadap teknologi. Nampak bentuk pergaulan yang kurang baik yang dilakukan oleh para pengguna teknologi, termasuk anak-anak. Seperti menggunakan kata-kata kasar, membully, cara berpakaian, dan tingkah laku keseharian. Masalah-masalah ini haruslah segera diatasi dengan pendidikan karakter yang mengajarkan karakter kepada siswa dalam berteknologi. Pendidikan adalah alat untuk melahirkan generasi bangsa. Native generation merupakan generasi anak-anak yang sejak lahir sudah hidup dengan perkembangan internet. Maka dari itu sekolah perlu mempersiapkan kurikulum pendidikan karakter yang cocok untuk generasi tersebut. Karena hanya dengan kurikulumlah tujuan sekolah dapat tercapai.
Perubahan karakter siswa, dan kondisi masyarakat mengharuskan sekolah memiliki kurikulum yang sesuai. Kurikulum yang terlah terbukti sukses di masa lampau belum tentu sukses di masa kini, mengingat karakter input yang berbeda. Maka diperlukan pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan asal-asalan. Kurikulum yang baik haruslah melalui proses manajemen pengembangan kurikulum. Sehingga ada tahapan-tahapan dan komponen pengembangan kurikulum yang diatur sebaik mungkin.
Tanpa manajemen pengemabangan kurikulum akan tumpang tindih dan kurang teratur. Sukses atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan salah satunya disebabkan oleh kurikulum. Maka memunculkan kurikulum yang baik memerlukan sistem manajemen yang baik pula. Maka dari itu tulisan ini akan membahas tentang manajemen pengembangan kurikulum pendidikan karakter yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Yaitu kedekatan masyarakat dengan teknologi, dan mempersiapkan kurikulum pendidikan karakter bagi nativegeneration yang akan menjalani hidup dengan teknologi yang semakin berkembang.
Metode
Tulisan yang berusaha mengkaji manajemen pengembangan kurikulum berbasis karakter ini menggunakan metode kajian pustaka. Dengan mengkaji beberapa literatur relevan untuk merumuskan kurikulum berbasis karakter yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan karakter saat ini.
Hasil dan Pembahasan
A. Kurikulum Pendidikan Karakter
Kurikulum yang disebut sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan adalah sebuah sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Kurikulum bila dilihat secara luas mencakup segala kegiatan pengelolaan di luar kelas, tidak hanya segala yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja.[1] Maka komponen kurikulum tidak hanya mencakup hal yang terjadi di dalam kelas saja, namun juga hal di luar kelas. Seperti organisasi lembaga pendidikan, kondisi keuangan lembaga pendidikan, budaya organisasi lembaga pendidikan dan lainnya. Seluruh hal tersebut baik hal-hal di dalam kelas dan di luar kelas akan saling mempengaruhi.
Karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia. Karakter setiap orang mencirikan dirinya. Karakter yang baik memiliki beberapa komponen, diantaranya adalah karakter berupa ilmu pengetahuan, karakter berkaitan dengan emosi seseorang, dan tindakan yang berkaitan dengan dua hal sebelumnya.[2] Ketiga komponen tersbeut bila dimasukkan ke dalam kurikulum akan menjadikan kurikulum pendidikan karakter lebih bermakna bagi peserta didik.
B. Manajemen Pengembangan Kurikulum
Pada dasarnya tujuan utama manajemen kurikulum adalah untuk merealisasikan dan merelevansika antara kurikulum nasional (standar kompetensi) dengan kebutuhan wilayah dan kondisi sekolah. Sehingga kurikulum tersebut menyatu dengan siswa dan lingkungan sekolahnya.[3] Saat ini hal yang sangat berkembang di masyarakat adalah tentang teknologi. Anak yang lahir di tahun 2011 hingga setelahnya merupakan generasi Alpha yang terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi. Sehingga mereka disebut dengan Native Generation, karena sejak dari lahir mereka sudah berdampingan dengan teknologi. Atas dasar tersebut dirasa perlu mengembangkan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi.
Proses pengembangan kurikulum haruslah mencakup dua hal pokok yaitu; landasan-landasan pengembangan kurikulum dan komponen-komponen kurikulum.[4] Pengembangan kurikulum bukan berarti merubah kurikulum secara keseluruhan, namun mempertahankan esensi kurikulum dan merubah hal-hal yang dirasa kurang cocok diganti dengan yang lebih baik. Maka pengembangan kurikulum haruslah didasarkan dari data-data empiris, seperti hasil penelitian, temuan-temuan dan eksperimen.
Ada dua jenis manajemen pengembangan kurikulum. Yang pertama adalah manajemen pengembangan kurikulum sentralistik dan yang kedua adalah manajemen kurikulum desentralistik.[5] Karena Indonesia sangat luas dan memiliki karakter wilayah, ras, suku, bangsa dan agama yang berbeda-beda, maka manajemen pengembangan kurikulum desentralistik dirasa yang paling tepat. Karena memungkinkan bagi sebuah lembaga pendidikan mengembangkan kurikulum pendidikannya sesuai dengan kondisi sosial, politik, budaya, dan ekonomi yang ada di lingkungan sekolah.
Sedangkan komponen-komponen yang harus dikembangkan adalah komponen-komponen kurikulum seperti tujuan kurikulum, isi kurikulum, kegiatan belajar mengajar atau metode kurikulum, dan evaluasi atau penilaian kurikulum.[6] Sebenarnya pengembangan kurikulum mungkin terjadi tanpa sistem manajemen. Namun alangkah lebih baiknya bila pengembangan kurikulum tersebut dilakukan dengan sistem manajemen yang tepat dan rapih. Harapannya adalah hasil dari pengembangan kurikulum tersebut menjadi kurikulum yang matang dan layak untuk digunakan. Selain itu manajemen pengembangan kurikulum juga berfungsi agar seluruh komponen dari kurikulum yang dikembangkan tidak tumpang tindih dan berperan sesuai porsinya masing-masing.
Dasar pengembangan kurikulum pendidikan karakter adalah pandangan hidup seseorang berupa pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian yang menyebabkan mereka berkembang.[7] Melihat kondisi native generation yang sejak lahir sudah hidup berdampingan dengan teknologi, rasanya pengembangan kurikulum pendidikan karakter yang tepat adalah berbasis teknologi. Tanpa disadari native generation sudah banyak melakukan literasi digital. Seperti menulis pesan singkat, mengunggah tugas di google classroom, dan lainnya. Berdasarkan kenyataan tersebut diperlukan pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi yang dimulai dengan proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi.
Komponen sekolah yang perlu diatur adalah kurikulum dan pembelajaran, ketenagakerjaan, peserta didik, keuangan, sarana prasarana, administrasi, keorganisasian, hubungan dengan masyarakat, dan lingkungan sekolah.[8] Selain kurikulum manajemen juga dibutuhkan dalam kegiatan belajar menajar di dalam kelas, pengaturan guru dan karyawan sekolah, keuangan, peserta didik dan lainnya. Bila semua unsur tersebut tertata dengan baik insyaAllah tujuan pendidikan dapat tercapai.
1. Perencanaan Pengembangan Kurikulum Berbasis Karakter
Perencanaan merupakan cetak biru pencapaian tujuan yang dilakukan oleh manajer. Langkah yang dimuat dalam perencaaan menentukan apa yang harus dikerjakan, oleh siapa dikerjakan, kemana, kapan dan bagaimana. Perencaaan yang matang akan memudahkan pemanfaatan sumber daya secara maksimal.[9] Tanpa perencanaan suatu kegiatan akan berantakan dan tumpang tindih. Maka dari iru pengembangan kurikulum juga perlu dilaksanakan berdasarkan ilmu manajemen.
Bila dilihat secara luas, manajemen kurikulum termasuk di dalamnya kegiatan dan pengelolaan yang ada di luar kelas. Maka hal pertama yang haruslah dilakukan adalah menyiapkan naskah konseptual kurikulum.[10] Naskah konseptual kurikulum ini yang nantinya menjadi pedoman kegiatan sekolah berjalan. Perumusan naskah kurikulum bisa disebut dengan langkah perencanaan dalam kegiatan pengembangan kurikulum.
Perencanaan pengembangan kurikulum dilakukan dengan membuat kerangka kurikulum yang dikembangkan dari kurikulum yang lama. Sasaran pengembangannya adalah disesuaikan dengan harapan stake holders pendidikan dan perkembangan anak didik.[11] Maka kurikulum yang menjadi landasan adalah kurikulum K13 yang memuat KI spiritual dan KI sosial di dalamnya. Yang bila dikembangkan akan menjadi 19 karakter. Nilai pendidikan karakter tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli linkungan, peduli, dan tanggung jawab.[12] Tim pengembangan kurikulum dan stakeholders dapat memilih dan menentukan berbagai karakter yang berbasis pada teknologi. Karakter yang dipilih disesuaikan dengan kondisi siswa yang dekat dengan tenologi, pandangan masyarakat terhadap teknologi, dan kemampuan sekolah dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang berteknologi yang mumpuni.
Bila dijabarkan maka ada beberapa unsur dalam kurikulum yang juga perlu dikembangkan dan di sesuaikan. Unsur-unsur dalam kurikulum tersebut harus dibuat dengan dasar teknologi. Dan penjabaran unsur tersebut adalah sebagai berikut:
a. Perumusan Tujuan Kurikulum
Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan. Maka dalam kurikulum haruslah ada tujuan yang jelas. Proses perencanaan yang diawali dengan penyusunan naskah kurikulum tidak terlepas dari elemen-elemen kurikulum. Elemen utama dari sebuah kurikulum adalah tujuan kurikulum. Penyususnan tujuan kurikulum dilakukan dengan penetapan visi dan misi.[13]
Tujuan kurikulum dikembangkan atas dasar tujuan pendidikan nasional, tujuan lembaga pendidikan, kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi dan nilai pendidikan karakter. Hasil perumusan tujuan kurikulum diwujudkan dalam bentuk tujuan, visi, dan misi sekolah. Maka manajemen pengembangan kurikulum membantu menentukan tujuan kurikulum yang jelas. Tujuan yang jelas akan mempengaruhi kerja organisasi sekolah.
b. Perumusan Isi Kurikulum
Isi kurikulum berupa kumpulan mata pelajaran yang dialamnya diselipkan nilai-nilai pendidikan karakter. Isi kurikulum haruslah mengajarkan tentang penggunaan, pemanfaatan, dan pengembangan teknologi. Isi kurikulum pada tiap jenjang pendidikan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah sistem paket. Program pendidikan yang dijalankan dapat berupa sistem paket, dimana siswa diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran, sedangkan beban belajar tiap jenjang kelas disesuaikan dengan struktur kutikulum, yang dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran termasuk muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan.[14]
Sistem paket dikatakan sebagai sistem yang lengkap, karena didalamnya memuat berbagai materi yang telah dirumuskan dan ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan tujuan kurikulum. Sistem pendidikan dikatakan baik bila memasukkan isi (materi) yang berorientasi pada nilai ke dalam kurikulumnya.[15] Tujuan penting dari isi kurikulum adalah materinya dapat memberikan nilai kepada siswa.
c. Rancangan Kegiatan Belajar Mengajar (Metode)
Rancangan kegiatan belajar mengajar haruslah meliputi segala hal yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar agar mampu mengembangkan potensi siswa sesuai dengan tujuan sekolah.[16] Seperti sumber belajar, karakteristik peserta didik, metode pembelajaran, dan sarana prasarana harus dikelola. Pengelolaan dan pengaturan berbagai komponen dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat menunjang ketercapaian tujuan pendidikan.
Pengelolaan dan pengaturan berbagai komponen KBM di atas haruslah memperhatikan beberapa hal sebagai berikut; adanya perencanaan penyusunan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan, pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran, dan melakukan evaluasi yang berkelanjutan.[17] Penyusunan langkah-langkah pembelajaran tidak terlepas dari perangkat pembelajaran. Maka perangkat pembelajaran masih menjadi hal yang penting sebagai wujud perencaan sistem manajemen kelas.
Langkah-langkah KBM karakter di sekolah haruslah dimuat dalam kurikulum. Langkah tersebut adalah mengajarkan secara teoritik, memberikan teladan atau contoh nyata, menentukan prioritas karakter yang ditekankan pada siswa, dan memberikan refleksi terhadap semua karakter yang nampak pada diri siswa. Refleksi ini bisa dilakukan dengan pemberian hadiah dan hukuman dengan wujud yang berfariasi.
d. Rancangan Strategi Penilaian (Evaluasi) Kurikulum
Rancangan evaluasi ini juga termasuk dalam RPP. Strategi yang tepat diharapkan dapat memberikan penilaian yang akurat. Rancangan evaluasi yang perlu dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar adalah evaluasi hasil pembelajaran secara menyeluruh. Dengan menggunakan berbagai instrumen yang diperlukan, seperti portofolio dan lainnya. Hasil penilaian kelas ini dapat digunakan untuk memantau keberhasilan KBM di kelas, meningkatkannya dan menerapkannya.[18]
Bila hasil penilaiannya baik maka dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajarannya sukses, begitu juga sebaliknya. Dalam konteks pendidikan karakter, pembelajaran karakter melalui penyampaian materi dalam kelas dikatakan berhasil bila mampu merubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Perubahan karakter atau sikap siswa setelah pembelajaran berarti nilai-nilai yang diajarkan sudah masuk ke dalam diri siswa.
2. Pengorganisasian Kurikulum Berbasis Karakter
Lembaga pendidikan tersusun dari berbagai hal. Maka untuk mengatur semua itu diperlukan manajemen yang baik. Sistem manajemen yang mengatur itu semua adalah tahapan organisasi. Dalam lembaga pendidikan mengorganisasikan adalah kegiatan mengkoordinasi manusia dan sumber daya materi sekolah dalam sebuah organisasi, atau membangun tim dan sumber daya yang dibutuhkan. Wujudnya adalah membuat struktur organisasi, mengisinya dengan sumber daya yang dimiliki dan menentukan tugasnya.[19] Selain itu mengatur lingkungan sekolah dengan memanfaatkan segala sarana prasarana sekolah sebagai pendukung kurikulum juga diperlukan.
Diantara bidang yang perlu diorganisasikan dalam pengembangan kurikulum adalah kurikulum mata pelajaran, kurikulum mata pelajaran berkorelasi, kurikulum bidang studi, kurikulum integrasi dan kurikulum inti.[20] Maka bagi pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi perlu mengoranisasikan kurikulum terintegrasi. Hal ini disebabkan karena keberadaan teknologi yang selalu dekat dengan manusia. Maka kurikulum terintegrasi pendidikan karakter berbasis teknologi sangatlah cocok. Wujud integrasi kurikulum ini adalah dengan pendekatan pendidikan karakter melalui kurikulum, penegakkan disiplin, manajemen kelas, serta program-program ekstrakulikuler atau yang lainnya.[21]
Maka pengorganisasian yang dilkaukan dalam pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi adalah dengan mengintegrasikannya ke dalam berbagai mata pelajaran. Kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi diintegrasikan dengan mata pelajaran secara dokumen, seperti memasukkannya ke RPP, atau diintegrasikan ke dalam muatan lokal sekolah, diintegrasikan ke dalam kegiatan ekstrakulikuler dan pembiasaan-pembiasaan.[22]
3. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Karakter
Pelaksanaan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi memerlukan sumber daya yang besar. Pemanfaatan sumber daya sekolah dengan efektif dan efisien sangat dibutuhkan. Seperti sarana prasarana pembelajaran, tenaga kependidikan, guru, dan juga input sekolah atau siswa. sehingga lingkungan sekolah dapat menjadi tempat pendidikan yang baik bagi pertumbuhan kaakter siswa. segala peristiwa yang terjadi di sekolah semuanya terintegrasi dalam program pendidikan karakter.[23]
Pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi merupakan kurikulum terintegrasi. Maka membutuhkan guru yang mampu melakukan transfer ilmu, transfer nilai dan transfer ketrampilan secara terintegrasi kepada siswa. Untuk memenuhi kebutuhan kompetensi guru tersebut dilakukan pengarahan dalam pengembangan siabus, RPP dan cara mengajar di kelas.[24]
Dalam manajemen yang dikelaola tidak hanya sumber daya manusia, tetapi juga sumber daya lainnya yang ada dalam sekolah. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah usaha seluruh warga sekolah, bukan hanya guru. Sekolah hanya bagian yang menciptakan sebuah kultur pendidikan karakter.[25] Maka seluruh warga sekolah berperan penting dalam menjalankan kurikulum pendidikan karakter. Menjalankan kurikulum tersebut tidak bisa hanya dilimpahkan kepada guru, namun menjadi tanggung jawab semua pihak. Bila hanya tugas guru, mungkin pelaksanaannya kurang maksimal.
Dibutuhkan peran kepala sekolah/madrasah dalam tataran sekolah, guru dalam tataran kelas, RPP berkarakter, pembiasaan dan keteladanan, kegiatan ekstrakulikuler, dan evaluasi.[26] Sistem pendidikan dikatakan baik dan prograsif bila sudah mampu menggerakkan orang dan memanfaatkan segala sumber dayanya untuk ekerja sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4. Evaluasi Kurikulum Berbasis Karakter
Manajemen pengembangan kurikulum yang perlu dievaluasi dalah program kurikulum secara keseluruhan. Baik dari kondisi sarana rasarana sekolah maupun guru dan karyawan sekolah. Evaluasi aspek guru berkenaan dengan metode pembelajaran, aspek siswa berkenaan dengan nilai, dan aspek orang tua berkenaan dengan dukungan dari orang tua.[27] Evaluasi yang menyeluruh dapat membantu menghasilkan hasilobjektif dalam menilai kurikulum yang sedang dikembangkan.
Kegiatan evaluasi pengembangan kurikulum juga dinilai melalui berbagai indikator. Indikator tersebut dapat mengambarkan bagaimana pengembangan kurikulum tersebut berlajalan. Diantara hal yang dapat dilihat adalah sebagai berikut. Evaluasi kurikulum ini dapat dilihat dari keseuaian antara yang dikerjakan dengan rencana, kesesuaian pencapaian tujuan, dan kesesuaian dalam pemanfaatan sumber daya alam.[28]
Dari hasil evaluasi dan penilaian tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan suatu kurikulum yang sedang dikembangkan. Atau juga untuk mengambil pelajaran dari kurikulum yang telah lalu. Misalnya hasil evaluasi kurikulum yang lalu menjadi landasan pengembangan kurikulum yang dilakukan. Keberhasilan kurikulum pendidikan karakter dapat diketahui dari bagaimana pendidikan karakter tersebut memberikan pengaruh terhadap siswa dalam bentuk perubahan periaku.[29]
Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk evaluasi adalah memperhitungkan ketercapaian target program, menggunakan pedoman rencana strategis dan pedoman tata tertib siswa sebagai instrumennya, memberdayakan para guru untuk melaksanakan monitoring seperti yang direncanakan, dan melaksanakan rapat koordinasi dari hasil monitoring dan evaluasi.[30] Untuk memaksimalkan kurikulum yang sedangdikembangakan perlu adanya instrumen penilaian yang dibuat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh kurikulum
Kesimpulan
1. Perencanaan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter Berbasis Teknologi
Manajemen pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi dikembangkan dari kurikulum K13 berdasarkan kemampuan, kebutuhan dan kondisi sekolah. Proses manajemen pengembangan yang dilakukan adalah perencanaan. Perencanaannya di rumuskan dalam bentuk naskah kurikulum, yang di dalamnya termuat visi, misi dan tujuan, rencana pembelajaran, pengorganisasian seluruh sumber daya sekolah dan mengintregasikan kurikulum pendidikan karakter dengan pendekatan teknologi. Dengan sistem manajemen yang baik dalam mengembangkan kurikulum pendidikan karakter, mengantarkan pada terwujudnya kurikulum yang dapat mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. Pengorganisasian Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter Berbasis Teknologi
Kurikulum pendidikan karakter berbasisi teknologi merupakan pengembangan dari kurikulum K13. Untuk itu diperlukan sosialisasi dan pelatihan terhadap semua tenaga pendidikan yang ada di sekolah agar mampu berperan dan bekerja sama dalam menjalankan kurikulum tersebut. Maka perlu adanya dukungan pemilihan tenaga pendidik yang mumpuni, sarana prasarana yang mendukung, juga input (siswa) yang sesuai dengan kriteria kurikulum.
3. Pelaksanaan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter Berbasis Teknologi
Nilai pendidikan karakter berbasis teknologi yang sudah dipilih dimasukkan dan diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang dijabarkan dalam RPP menggunakan pendekatan kontekstual. Juga dimasukkan ke dalam kegaitan ekstrakulikuler sekolah.
4. Evaluasi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter Berbasis Teknologi
Evaluasi pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi merupakan suatu program yang terencana, terarah, dan berkelanjutan. Guru dan kepala sekolah menjadi pelaksana yang wajib memiliki pengetahuan dan ketrampilan melaksanakan evaluasi kurikulum sesuai dengan yang direncanakan. Sekolah juga harus terbuka bila mana masyarakat atau orang tua memberikan penilaian dan evaluasi terhadap kurikulum pendidikan karakter berbasis karakter yang dijalankan. Dari hasil penilaian dan evaluasi dari segala pihak dapat digunakan untuk merumuskan kurikulum atau program pembelajaran yang lebih baik.
5. Unsur-Unsur Kurikulum Pendidikan Karakter Yang Dikembangkan
Pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi ada unsur-unsur kurikulum yang harus dikembangkan juga dengan pendekatan teknologi. Unsur kurikulum tersebut adalah tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Tujuan dari kurikulum pendidikan karakter berbasis teknologi adalah menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter terhadap native generation agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Sedangkan materi yang diberikan adalah materi yang berkaitan dengan teknologi yang didalamnya mengandung nilai karakter. sedangkan metode yang dipilih adalah berpusat pada siswa melalui pengalaman belajar dan pembiasaannya. Kegiatan penilaian yang dilakukan adalah dengan portofolio.
Daftar Pustaka
Arief, Mohammad, ‘Manajemen Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter Pada Sekolah Dasar Negeri Ujung Manteng 01 Pagi Jakarta’
Arifin, Muhammad Ahkam, ‘The Teaching Methodology and Assessment of Character Education in Indonesian English Curriculum: Teacher’s Perceptions’, Asian Efl Journal, 10 (2017)
Hamalik, Oemar, Manajemen Pengembangan Kurikulum, 7th edn (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017)
Julaeha, Siti, ‘Problematika Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Karakter’, Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7 (2019)
Kusumadewi, Subekti, ‘Pengembangan Model Manajemen Kurikulum Berbasis Penguatan Pendidikan Karakter Untuk Meningkatkan Mutu’, Refleksi Edukatika, 10 (2019)
Mustoip, Sofyan, ‘Implementation of Character Education’, International Journal Pedagogy of Social Studies, 3 (2018)
Rahmadi, Mamat, ‘Pengelolaan Pendidikan Karakter Berbasisi Islam’
Rusdiana, Manajemen Pendidikan Karakter (Bandung: Pustaka Setia, 2019)
Salahudin, Anas, Pendidikan Karakter, 1st edn (Bandung: Pustaka Setia, 2013)
Salamah, Amelia, ‘Konsep Pendidikan Karakter Sosial Berbasis Al-Qur’an’, Kordinat, 20 (2021)
Santika, I Wayan, ‘Pendidikan Karakter Pada Pembelajaran Daring’, Indonesia Values and Character Education Journal, 3 (2020)
Saputra, Adi, ‘Manajemen Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Perilaku Siswa SD’, Edutaiment, 8 (2020)
Widiastuti, Ika, ‘Management of Character Education Strengthening Strategies in Students’, Internation Journal of Psychosocial Rehabolitation, 24 (2020)
[1] Siti Julaeha, ‘Problematika Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Karakter’, Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7.1 (2019). 161
[2] Anas Salahudin, Pendidikan Karakter, 1st edn (Bandung: Pustaka Setia, 2013).65
[3] Julaeha.161
[4] Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, 7th edn (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017). 14
[5] Julaeha. 163.
[6] Hamalik. viii
[7] Subekti Kusumadewi, ‘Pengembangan Model Manajemen Kurikulum Berbasis Penguatan Pendidikan Karakter Untuk Meningkatkan Mutu’, Refleksi Edukatika, 10.1 (2019). 174
[8] Mamat Rahmadi, ‘Pengelolaan Pendidikan Karakter Berbasisi Islam’.
[9] Rusdiana, Manajemen Pendidikan Karakter (Bandung: Pustaka Setia, 2019). 82.
[10] Mohammad Arief, ‘Manajemen Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter Pada Sekolah Dasar Negeri Ujung Manteng 01 Pagi Jakarta’.
[11] Julaeha.162
[12] Salahudin. 54-56
[13] Rahmadi.
[14] Adi Saputra, ‘Manajemen Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Perilaku Siswa SD’, Edutaiment, 8.2 (2020). 157
[15] Salahudin. 109
[16] Ika Widiastuti, ‘Management of Character Education Strengthening Strategies in Students’, Internation Journal of Psychosocial Rehabolitation, 24.8 (2020). 166
[17] I Wayan Santika, ‘Pendidikan Karakter Pada Pembelajaran Daring’, Indonesia Values and Character Education Journal, 3.1 (2020). 168
[18] Saputra. 153
[19] Rahmadi.
[20]Amelia Salamah, ‘Konsep Pendidikan Karakter Sosial Berbasis Al-Qur’an’, Kordinat, 20.1 (2021). 162
[21] Saputra. 155
[22] Saputra. 157
[23] Sofyan Mustoip, ‘Implementation of Character Education’, International Journal Pedagogy of Social Studies, 3.1 (2018). 154
[24] Saputra. 152
[25] Saputra. 154
[26] Saputra. 157
[27] Muhammad Ahkam Arifin, ‘The Teaching Methodology and Assessment of Character Education in Indonesian English Curriculum: Teacher’s Perceptions’, Asian Efl Journal, 10 (2017). 158
[28] Rahmadi.
[29] Rahmadi.
[30] Rahmadi.
Komentar
Posting Komentar